Sunday, January 22, 2017

,

Melbourne: Rewind - Winna Efendi (STPC)


Judul: Melbourne: Rewind
Penulis: Winna Efendi
Editor: Ayuning, Gita Romadhona
Desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrasi isi: Tyo
Penerbit: GagasMedia



Blurb:

Pembaca tersayang,


Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.


Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.


Setiap tempat punya cerita.


Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.


Enjoy the journey,


EDITOR



Non-spoiler summary


Melbourne: Rewind bercerita tentang Max dan Laura yang dulunya pacaran dan karena suatu hal, mereka putus dan lost contact selama kurang lebih lima tahun.

Sampai suatu hari, Max balik lagi ke Melbourne dan masuk lagi ke kehidupan Laura. Mereka kemudian memutuskan buat yah, ngobrol-ngobrol aja, bersikap layaknya teman gitu.

"Aku dan Max tidak memiliki komitmen apa pun kepada satu sama lain. Kami bagi sekarang hanyalah masa lalu."



Tapi mereka enggak mungkin mengabaikan rasa yang masih ada di dalam diri mereka. Udah gitu, muncul orang lain yang sempet bikin Laura bingung juga.

“You can meet someone who’s just right, but he might not be meant for you. You break up, you lose things, you never feel the same again. But maybe you should stop questioning why. Maybe you should just accept it and move on.” 

Apakah mereka akhirnya balikan lagi? Atau justru malah makin nyakitin satu sama lain?




Writing

Saya suka banget sama tulisannya Winna Efendi di buku ini. Bahasnya manis-manis gimana gitu (?). Terus cukup page-turner jugaa.

Cerita ini kan dibawakan dari dua sudut pandang, ganti-gantian gitu, kadang Max kadang Laura. Tapi Winna Efendi berhasil bikin saya enggak bingung haha. Oke, pas sudut pandang Max, emang pakai 'gue' dan pas Laura pakai 'aku', tapi kadang saya baca novel yang kayak gitu masih tetep bingung, lho. Cuma di sini enggak yay. Karena karakter mereka terasa bedanya gitu.




Deskripsi latar Melbourne di cerita ini saya rasa juga cukup pas sama ceritanya. Sukaa! 


Characters

Pertama saya mau bahas Max. Saya merasa karakter Max cukup unik karena obsesinya sama cahaya itu.

"A light is never just a light. Cahaya, seredup apa pun, mampu mengiluminasi kegelapan, dan menjadi medium yang menghidupkan dunia. Bagi gue, cahaya adalah hal terindah di dunia ini.


Yet, whenever I think of light, I'm always reminded of her."

Saya juga suka gimana Max itu cowok yang enggak terlalu peduli sama hal-hal romantis yang cheesy-cheesy gimanaa gitu. Tapi dia juga cowok yang baik karena mau dengerin Marly (temennya) curhat. Kadang bodoh juga sih (kayak pas dia ngomong kalimat itu), tapi saya tetep suka Max! x D

“Segala sesuatu perlu diucapkan saat dirasakan dan dipikirkan, supaya nggak ada rasa sesal di kemudian hari. Always live in the moment."

Kemudian ada Laura. Laura adalah seorang cewek yang suka banget dengerin lagu. Pas zaman kuliah, dia dengerin lagu lewat walkman-nya (yang mempertemukan dia sama Max). Sekarang, dia dengerin lagu lewat iPod-nya.

“Lagu-lagu yang ada dalam iPod seseorang itu mengungkapkan banyak hal tentang seseorang; hal-hal yang dia pikirkan, apa yang membuatnya sedih, dan apa yang membuatnya bahagia. Benda itu diisi dengan lagu-lagu yang mewakili perasaan-perasaan itu dalam hidupnya. It’s their soundtrack, the story of their lives.” 

Laura juga bukan tipe cewek yang cheesy dan suka yang romantis-romantis. Jadi, dia cocok banget sama Max! Tapi, Laura juga suka mendem perasaannya sendiri gitu. Jadi pas dia baru putus sama Max, dia kayak patah hati banget. Terus sejak Max, dia enggak pernah pacaran yang serius sama cowok lain.

“I think everyone is scared in their own way. Takut gagal, takut salah, takut nyesel.” 

Selain Laura, saya juga suka sama Cecily a,k.a Cee a.k.a sahabatnya Laura dari SMP. Saya suka banget karakter dia! Lucu gitu haha. Dia selalu ngerti Laura dan bener-bener cocok, lah jadi sahabatnya Laura.

“You have to let go of those feelings, Ra. Anger, fear, regret. It’s the only way you can forgive yourself and love again.”  

Plot

Buat alurnya, menurut saya enggak terlalu lambat, tapi enggak terlalu cepet juga. Walaupun di awal--sebelum masuk konflik--agak membosankan sih, tapi menurut saya masih dalam kadar yang pas hehe.

Kalau konfliknya sendiri saya juga suka. Enggak belibet yang sampai ke sana-ke mari, melibatkan banyak banget orang atau apa. Tapi cukup rumit buat dijadikan konflik karena masalahnya sama masa lalu yang udah enggak bisa diapa-apain lagi.

“If you could use that rewind button, would you? Turn things back the way they used to be?” 

Dan saya juga suka sama penyelesainnya. Enggak muluk-muluk banget tapi memuaskan! : D




Other things

Hal lain yang saya suka dari buku ini adalah playlist-nya! Yaampun saya suka banget. Waktu saya baca buku ini dan nemuin lagu-lagu yang udah lama enggak saya denger (dan dulu kayak lagu nasional versi saya karena saya dengerin terus), saya langsung terkena serangan kangen dan dengerin lagi lagu-lagu itu haha.

"Why are the things that I want to say

Just aren't coming out right?

I'm tripping on words

You got my head spinning

I don't know where to go from here."

Dan saya juga enggak nemu kesalahan yang parah-parah banget di buku ini. Saya nemu halaman yang enggak bernomor sih, tapi enggak masalah kok, karena saya juga enggak bakal merhatiin kalau waktu itu enggak sengaja ngelihat haha.

Overall

Secara kesuluruhan, saya suka novel ini. Mungkin bukan buku Setiap Tempat Punya Cerita favorit saya, tapi cukup memuaskan, kok. Hehe.

Oh ya, ini ada filmnya, kan? Saya harus nonton (iya, belum nonton. Parah, ya. Kudet banget haha). Penasaran banget Max sama Laura bakal jadi kayak gimana di film: D.



Quotes

"Cinta itu rumit, tapi setiap orang tidak sabar untuk jatuh ke dalam kerumitan itu, dan ikut tersangkut dalam jaringnya."

--

"Because you know what?


Sometimes, the truth is harder to take than lies."

--

"Banyak orang yang ngelihat segala sesuatu cuma dari luarnya. Cahaya cantik karena kerlipnya kontras dengan kegelapan, tapi banyak yang nggak sadar, cahaya itu lebih dari sekadar estetika maupun sisi fungsionalnya aja. Cahaya adalah pemberian Tuhan, bagian dari alam, yang kemudian direplika dan dikreasikan oleh manusia untuk menjadi sesuatu yang lebih baik lagi. It creates magic. It is magic." 

--

"Gue percaya sama konsep belahan jiwa, tapi gue nggak percaya bahwa kebahagiaan kita cuma ada sama satu orang. Dalam hidup ini, lo nggak selalu bisa dapetin apa yang lo mau, orang-orang yang lo sayang nggak selalu punya perasaan yang sama. Karena itulah gue percaya, akan selalu ada orang-orang lain yang bisa memberikan bentuk kebahagiaan lain." 

--

“Nyaman adalah berbagi waktu tanpa perlu merasa canggung. Nyaman adalah menikmati keberadaan masing-masing, walau yang dapat kami berikan kepada satu sama lain hanyalah kehadiran itu sendiri. Nyaman berarti tidak perlu meminta maaf saat lengan kami bersenggolan secara tak sengaja, merokok dalam mobil dan bebas mengutak-atik stereo tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Nyaman adalah meneleponnya tanpa alasan, hanya karena ingin mengobrol, atau karena ada film baru yang ingin kutonton tapi tidak punya teman untuk diajak. Rasa ini tidak perlu dilabeli, diartikan, atau dianalisa.”  

--

“Cinta pertama adalah ketika untuk pertama kalinya dalam hidup lo, lo mampu melihat segala sesuatu dengan lebih jelas, merasa lebih hidup, dan ingin jadi versi terbaik dari diri sendiri, saat dia berada di samping lo. Saat hidup lo berubah berantakan dan masih bisa berpikir, screw this mess, at least I still have you by my side.”  

--

Gue hanya tersenyum. Sebelum dia pergi, gue bertanya, “How long do you think it takes to get over someone?”


Dia terhenyak sebentar sebelum menjawab, “Forever. Sometimes it takes forever.”  

Stars

Terakhir, saya kasih 3.75 dari 5 bintang buat walkman jadul yang bersejarah.



p.s sekarang saya lagi ngidam bukunya Winna Efendi yang paling baru. Yang Some Kind of Wonderful itu lhoo ;-; penginn wkwk /inibukankode/.



4 comments:

  1. Terima kasih reviewnya.
    Aku malahan belum baca bukunya, nonton filmnya jg baru setengah. Jd penasaran mau baca bukunya malahan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama : ) Ayo baca bukunyaa! Saya malah penasaran sama filmnya hehe.

      Delete
  2. Replies
    1. ayo bacaa : D Sekarang udah keluar yang versi cetak ulangnya kann hehe

      Delete