Monday, December 26, 2016

,

Serendipity - Erisca Febriani


Judul: Serendipity
Penulis: Erisca Febriani
Penyunting: Adeliany Azfar, Gita Romadhona
Desainer sampul: Indah Rakhmawati
Ilustrasi isi: @teguhra
Penerbit: Inari


Blurb: 

Dulunya, Arkan dan Rani adalah sepasang kekasih. Tiba-tiba, di sebuah taman kota, Arkan mengikrarkan bahwa mereka harus berpisah.


Dua bulan telah berlalu. Sekarang, meskipun mereka satu kelas, Arkan tidak pernah lagi menyapanya. Kadang, memang selucu itu; mereka yang dulu bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang apa pun, kini bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan ‘hai’ atau ‘selamat pagi’.


Rani tahu Arkan membencinya. Rani tahu ini kesalahannya. Tapi Arkan seharusnya mendukungnya. Dia sedang berusaha bertahan hidup.


Dengan segala kemampuannya, dengan segala perisai dan kekuatannya, Rani berusaha bertahan dan berdiri tegak.

Serendipity diawali dengan Rani yang diputusin Arkan karena suatu hal. Sejak saat itu, Arkan berlaku sadis banget ke Rani. Pokoknya, si Arkan ini kayak benci banget dan berusaha bikin Rani benci juga sama dia. Rani menduga Arkan ini yang udah nyebar-nyebarin berita enggak bener tentang Rani yang bikin Rani dijauhin dan di-bully sama temen-temennya.




Suatu hari, datang seorang anak baru di kelas Rani, namanya Gibran. Si Gibran ini orangnya slengean parah, berani, supel, dan narsis hahaha. Tapi di balik semua sikapnya itu, Gibran aslinya peduli dan baik banget. Saat semua orang enggak ngerti Rani, Gibran ada buat Rani. Gibran juga selalu berusaha buat bikin Rani senyum.

"Seseorang yang ngehabisin sedetik dalam hidupnya untuk cemberut dan marah-marah adalah orang yang nggak bersyukur dan ngehargai hidup."



Masalah pun datang bertubi-tubi ke kehidupan Rani. Awalnya, semua masalah itu terlihat enggak berhubungan, tapi tenyata masalah-masalah itu saling terhubung dan yah, makin ruwet hidupnya Rani wkwk.




Tapi tentu aja, masalah pun satu-satu mulai terlihat dengan jelas titik terangnya dan yah, ada solusinya--termasuk masalah perasaan Rani dan Arkan.

HMMMM, kira-kira Rani milih Arkan apa Gibran ya? wkwk



Saya enggak bakal spoiler, silakan baca sendiri!

Yang saya suka dari buku ini adalah, tema yang diangkat enggak melulu soal cinta, tapi ada pertemanan, keluarga, dan lain-lain. Masalahnya pun juga menarik untuk diikuti. Tokoh-tokohny  juga masih SMA--jadi masalahnya terasa dekat.

Saya juga suka diksinyaa! Ada kutipan-kutipan yang saya tandain (nanti saya tulis di bawah). Bahasanya enak, bacanya jadi cepat.

Saya enggak bisa bandingin novel ini sama novel pertamanya Kak Erisca karena saya belum baca Dear Nathan walaupun udah beli HAHA. Tapi saya cukup puas baca novel ini.

Tapi ini ada beberapa hal yang saya bingung:


ini katanya Didi kakak kelasnya dari 11 IPS 1

Tapi, bukannya Rani juga kelas 11?


((ini pas di kelas Rani))

Apa itu maksudnya Didi yang ini? (yang nongol di awal-awal banget)

tapi ini IPS 3..


Ya, enggak tahu juga sih, wkwk.

Sama ada ini:


katanya tangannya Rani dingin. Terus pas dilepas, katanya kehilangan genggaman hangat lol

Mungkin dia terkena panas dingin.

Itu aja sih hehe. Paling ada typo, tapi enggak apa-apa. Selebihnya, saya udah cukup puas. Ini beberapa kutipan yang saya suka: 

"Yang terpenting dalam hidup itu adalah bagaimana cara kamu menghargai orang lain, menyebarkan kebahagiaan untik orang-orang sekitar kamu. Ayah nggak butuh kamu dapat nilai besar, cukup jadi Rani yang bisa buat orang-orang tersenyum. Itu udah buat Ayah bangga."

--

"Menjadi 'bodoh' itu perlu, Ran. Supaya apa? Supaya kita terus nyari tahu hal yang sebelumnya kita nggak tahu. Karena dengan bodoh, kita bakal berusaha nyari jawaban dari pertanyaan yang bermunculan di kepala, dan dengan bodoh juga kita bakal haus dengan ilmu. Aku termasuk tipe yang nggak pernah puas dengan sesuatu. Karena ilmu itu nggak ada batas."

--

"Kenapa orang besar tetap percaya diri? Karena nggak pernah ada dalam sebuah cerita seekor singa berhenti ngelangkah cuma karena takut di hadapan banyak anak anjing."

--

"Ada banyak kata yang ingin dirajut, tapi tak tersampaikan. Ada kisah-kisah yang ingin dibagi. Ada rindu yang ingin disalurkan. Namun, semua itu hanya bisa diwujudkan dalam bisikan semu di udara."

--

"Seharusnya, kita hidup kayak awan. Dari awan berubah jadi titik hujan, luruh ke sungai, mengalir ke laut dan kembali jadi awan. Manusia pada dasarnya mengalami perubahan, mengikuti hukum alam yang membawanya, mengikuti setiap proses yang akan membentuknya menjadi sosok yang baru. Tapi mau gimana pun manusia berubah, manusia bakal kembali ke awal, yaitu pada Tuhan."

--

"Gadis itu adalah bunga, tapi dia juga adalah hujan. Terkadang dia adalah siang yang cantik, tapi juga malam yang menyimpan kesedihan."

--

"Pengkhianatan itu ibarat lumut yang tumbuh di sela-sela bebatuan, menyelusup dan tumbuh, lalu secara perlahan, menghancurkan."

--

"Hiduplah seperti bunga dandelion.


Dandelion tidak secantik mawar, tidak seindah lili, tidak seabadi edelweis. Dandelion tidak memiliki mahkota yang membuatnya tampak menarik. Dandelion juga tidak sewangi melati. Tapi dandelion adalah bunga paling kuat. Dia tetap bisa tumbuh di antara rerumputan liar, di celah batu. Dandelion terlihat rapuh, tapi begitu kuat, begitu indah, begitu berani. Berani menentang sang angin, terbang tinggi, begitu tinggi... menjelajah angkasa sampai akhirnya tiba di suatu tempat untuk dapat tumbuh membentuk kehidupan baru."

Oke, itu aja. Terakhir, saya kasih 3 dari 5 bintang untuk Rani dan bunga dandelion : D



2 comments:

  1. Jujur novelnya erisca dr yg kemarin kemarin banyak bgt yg typo dan g konsisten. But at least namanya juga berlatih lah ta jadi begitulah saya jadi suka mikir dulu kalau mau beli bukunya dia. Di cek dulu bagus ato enggak dan typo nya

    ReplyDelete
  2. Dan daripada dear nathan saya suka sama senja-nya esti kinasih. Just my own opinion aja

    ReplyDelete