Saturday, December 10, 2016

,

Bangkok: The Journal - Moemoe Rizal (STPC)


Judul: Bangkok: The Journal
Penulis: Moemoe Rizal
Editor: Ibnu Rizal
Proofreader: Christian Simamora
Desain sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
Cetakan pertama, 2013



Blurb:

Pembaca tersayang,


Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.


Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta. 


เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,


EDITOR


Bangkok: The Journal bercerita tentang Edvan, seorang laki-laki yang udah sepuluh tahun ninggalin keluarganya dan memutuskan untuk berkarier sendiri sebagai arsitek.

Jerih payah Edvan terbayar. Dia sukses jadi arsitek di Singapura. Sampai kemudian, Edvan dapat kabar dari adiknya, Edvin, kalau ibunya meninggal. Karena itu, Edvan kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, Edvin menyampaikan wasiat ibu mereka kepada Edvan. Wasiat itu berupa jurnal yang ditulis di belakang kalender tahun 1980. Ibu meminta Edvan untuk mencari jurnal-jurnal lainnya yang tersebar di Bangkok. Di setiap jurnal, akan ada petunjuk yang mengarahkan ke jurnal sebelumnya.

Awalnya, Edvan enggak mau. Ya iya lah, itu kan kedengerannya gila dan enggak masuk akal. Bangkok kan gede!




Tapi kemudian, karena terdorong sama hati dan karena rasa bersalah juga, Edvan akhirnya setuju untuk mencoba nyari jurnal-jurnal Ibu di Bangkok. Edvin juga ikut ke Thailand karena ada urusan (gamau spoiler haha).

Di Bangkok, Edvan dipandu sama Charm. Gadis kenalan pramugari yang dimodusin Edvan di pesawat (lol). Ternyata, Charm ini kayak namanya--orangnya charming. Edvan yang narsisnya kebangetan aja bisa dibikin mati kutu sama Charm hahaha!

“Khun melamun lagi? Jangan terlalu banyak melamun. Di Bangkok banyak hantu. Nanti Khun kerasukan.”

Aku udah kerasukan, kok. Dirimu ada di hatiku. Itu sudah satu kerasukan yang kualami.” 




Edvan dan Charm pun menyusuri Bangkok dan mulai mencari jurnal Ibu yang dititipkan ke berbagai macam orang. Mulai dari anak kecil (anak kecil tahun 1980 maksudnya. Pas ketemu sekarang ya udah gede wkwk) sampai penjaga kuil yang mukanya nyeremin parah.

Selain Charm, Edvan juga dibantu sama Max, adeknya Charm yang suka banget muaythai! Lol parah.

Selama mengumpulkan jurnal di Bangkok, Edvan dapat banyak banget pelajaran. Dari mulai hal-hal kecil kayak rajin beres-beres kamar (haha) sampai kayak nerima orang lain apa adanya, jadi diri sendiri, jadi kakak yang baik, terus banyak pelajaran tentang keluarga juga.

“Karena ketika aku menjadi diri sendiri, aku bisa jadi orang yang berguna.” 

Ahh saya suka banget buku ini! Awalnya saya emang denger-denger kalau buku ini bagus, tapi udah agak jarang di toko buku. Makanya waktu saya nemu buku ini di salah satu toko buku, saya langsung beli. Dan saya enggak nyesel!

Awal saya baca buku ini, saya harus adaptasi sebentar sama pembawaannya yang santai, tapi lama-lama saya jadi enjoy bacanya. Apalagi ini pakai sudut pandang cowok (sudut pandang Edvan) jadi kocak-kocak gitu, Apalagi kalau ada footnotes yang isinya kocak-kocak (kayak di I've Got Your Number-nya Sophie Kinsella. Saya suka banget footnotes kayak gitu. Lucuu hahaha).

Tapi di samping semua kelucuan dan kekonyolannya, buku ini juga berhasil bikin saya nangis hahaha! Pelajarannya dapet dan ngena banget. Terus di beberapa titik, Edvan kasihan banget wkkw.

"Saat itu juga, aku tahu alasan mengapa aku tiba-tiba menelepon Edvin.


Karena pada dasarnya, aku nggak sendirian. Aku masih punya keluarga."




Saya mau naruh beberapa kutipan yang saya suka di sini:

“Harusnya manusia dinilai dari apa yang dia lakukan pada orang lain, bukan pada dirinya sendiri semata.” 

--

“Kau tak perlu menerima kehadiran mereka, tapi biarkan mereka hadir karena kita tak bisa menghakimi apa yang mereka lakukkan." 

--

"Kita hanya hidup satu kali di dunia ini. Kenapa harus frustrasi pada masalah-masalah yang kita hadapi? Buat saja itu petualangan. Or something fun." 

--

"Kata Pa, hidup cuma satu kali. Laeo ngai? So what? Lakukan apa yang ingin dilakukan. Penyesalan itu hal negatif. Stay away saja. Kalau ada hal yang aku salah lakukan, atau tidak lakukan, laeo ngai? Waktu sudah berlalu. Biarkan saja penyesalan jadi kenangan. Penyesalan bukan untuk dinikmati."

--

"Thank you Mister, Said Monyakul, family not something you can create or shape shape. Family is there for you. For whatever it is. So Monyakul accept who I am. I am happy to hear that, Mister. Family help family."

--

"Because Uncle Jutharat tell me. Be yourself is key to love. Be someone not yourself is lying to love." 

--

Oke, segitu dulu yaa! Terakhir saya kasih 4 dari 5 bintang buat  Edvan dan kenarsisannya 5555.



1 comment:

  1. Belinya di gramed masih ada nggak sih? :(

    ReplyDelete