Friday, July 8, 2016

,

The Bridesmaids Tale - Fala Amalina (@Kaleela)


Judul: The Bridesmaids Tale
Penulis: Fala Amalina @Kaleela
Editor: Tesara Rafiantika
Desain sampul: Agung Nugroho
Penerbit: GagasMedia



Blurb:

Alana, Audi, Kaia, Nadine, dan Adel, lima sahabat dengan karakter berbeda. Lana yang kelewat kaku, Audi yang terlalu saklek, Kaia si magnet lelaki, Nadine yang polos, dan Adel si gadis alim. Namun, kelimanya punya impian yang sama: sukses dalam karier dan menikah dengan laki-laki impian.


Setelah terpisah sekian lama, kelimanya berkumpul kembali untuk sebuah kabar gembira. Nadine akan menikah! Di tengah kabar gembira itu, hanya Lana yang merasa cemas.


“Gue mau kalian yang jadi bridesmaids pernikahan impian gue. Tapi..., kalian harus bawa pasangan masing-masing sebagai groomsman kalian.”


Lana hanya bisa gigit jari di tempat duduknya. Pasalnya, hanya dirinyalah yang belum memiliki pasangan. Jangankan memiliki pasangan, Lana bahkan tidak berniat untuk jatuh cinta—apalagi memercayai cinta.


Sebuah kisah tentang hati yang hampir tak punya harapan, tetapi cinta menyapanya kembali. Tentang seseorang yang ternyata menemukan tangan-tangan lain yang menguatkan.


Hm, oke, jadi The Bridesmaids Tale ini bercerita tentang Lana yang udah kelamaan ngejomblo tapi kemudian harus nyari pasangan buat dijadiin groomsman.

Nah singkatnya sih, suatu hari Lana makan siang bareng temen-temennya. Dan pas balik ke kantor, di mejanya udah bertengger cowok yang ngaku namanya Gibran. Dia pakai komputer Lana buat streaming youtube dan ngilangin pekerjaan berminggu-minggunya Lana.

Akhirnya, Gibran nawarin bantuan gitu, kan, karena merasa bersalah. Singkat cerita, Lana minta Gibran (yang lebih akrab dipanggil Samudra) buat jadi pacar boongannya dia dan sekaligus jadi groomsman. Samudra a.k.a Sam yang emang kelihatannya udah tertarik sama Lana gitu, akhrinya setuju.

(AH SAM(uel)-LANA JADI INGET LAST FOREVER NOOO KUBAPER)

Cerita selanjutnya, silakan dibaca sendiri. WKWK. Saya enggak mau sop iler.

Awalnya saya beli tertarik sama The Bridesmaids Tale ini karena blurb-nya menarik perhatian saya. Akhirnya, saya ikut PO karena dapet potongan harga (HAHAH) dan post-card.

Ini penampakkan post-card-nya:




Dan saya sempet begini waktu ngelihat post-card-nya:




Saya bahkan belum buka bukunya udah tahu ending-nya Alana sama siapa gara-gara post-card-nya LOL. Dan pas saya mulai baca, nemu konflik dan sebagainya, tambah jelas ini ending-nya bagaimana. Tapi yah, yang penting emang ceritanya sih, bukan ending-nya. Jadi enggak terlalu masalah.

Tapi mungkin, bakal lebih mendebarkan (?) kalau nama di post-card-nya diganti jadi:




Hha gadeng.

Terus pas saya buka halaman pertama hm, font-nya Calibri dikebiri ;-; Saya enggak terlalu suka Calibri tapi ya enggak apa-apa, lah. Mari bersikap objektif! Wwkwk.

Akhirnya, saya mulai baca cerita ini dengan kepala yang masih dipenuhi cerita Lady Midnight HAHAH. (Baca Review Lady Midnight.)

Jujur aja, ekspektasi saya lumayan tinggi, tapi yah...




Pas baca, saya kayak biasa nandain halaman yang salah, dan ini hasilnya:


ini mungkin ada yang saya salah nandain atau apa. bisa jadi enggak sebanyak ini, atau malah lebih banyak. ((saya males ngecek lagi)) lol. tapi ya, kira-kira segini, lah


Macem-macem sih, mulai dari typo, kalimat enggak efektif, logika bolong, et cetera que sera sera.

Jadi kayak biasa, saya bakal bahas kesalahan teknis semacam typo dan kalimat, baru logika. Kalau males baca, lewatin aja AHAH.

p.s ini enggak bakal saya tulis semua kesalahannya karena saya masih sayang sama jari saya dan enggak pengin jari ini putus ok. Saya masukkin yang lumayan penting/greget menurut saya. Kalau menurut saya mengandung spoiler, ya enggak saya masukkin.

Oke, mulai dari tanda baca, paragraf, dan kata dulu, ya.


Yang saya tandain (1) itu apa tanda petiknya perlu? Soalnya sama paragraf berikutnya, yang ngomong masih satu orang. Setahu saya sih, tanda petik yang di (1) itu enggak perlu. CMIIW

Terus ada ini yang beberapa kali saya temukan dalam buku:


Yang (1) itu yang ngomong ibunya Lana. Yang (2) itu Lana. Bukannya lebih enak kalau paragrafnya dibedain? Di-enter gitu wkwk ((sotau mode on))

Hmm, terus ada beberapa salah di penggunaan italic. Misalnya ini:

stalking istilah asing. Karena kalimatnya di-italic, jadi harusnya stalking-nya ditegakkin (??)

Kasus yang sama kayak:


Sebenernya lumayan banyak, sih, yang italic gitu. Tapi enggak apa-apa, lah. Saya masukkin dua aja ya hehe.

Tapii, saya bingung di sini: (gausah dibaca kesuluruhan paragrafnya. Ntar jadi spoiler. Lihat sekilas aja):





Itu foto pertama sama kedua nyambung ya. Berurutan gitu. Nah cuma, kenapa paragraf yang satu gak di-italic, yang satunya di-italic? Itu nyambung lho paragrafnya... cuma beda halaman gitu. Kayak, anggaplah yang gambar 1 itu ada di halaman 10 paling bawah, gambar 2 itu ada di halaman 11 paling atas. Gitu.

((kalau mau dibaca isinya silakan. cuma saya takut spolier wkwk))

Oke, lanjut!

enggak baku. Harusnya detail

Daan yang enggak baku lagi:


harusnya familier

Daan mari ke typo. Typo itu jenis kesalahan yang wajar, sih. Cuma saya tetep mau masukkin beberapa HEHE.


harusnya celoteh

lol yang ini kenapa greget banget huruf ilangnya? : "" Itu bisa jadi putra atau putri lho HAHAHAHAHA.




Ok. Itu putra.

Nah, ini beberapa kesalahan huruf kapital ya:


ini kenapa saya s-nya gede? wkwk

Sam sama Lana jodoh banget sampe nama enggak dikapital aja bareng-bareng? LOL HAHAHAHA. Gadeng.


Kesalahan kapital abis tanda tanya gitu ada beberapa sih. Ini contohnya.

Lalu ada ini:

harusnya sih, kesepuluh. Tapi yang pertama dibilang ke sepuluh, yang kedua ke-10 (yang ini bisa juga, sih). Tapi jadi enggak konsisten. Dan lagi pula, kenapa Lana pake bilang dua kali? Iya tahu yang pacaran : "" iya tahu... tahu kok... tahu... : "" WKWKWK

Terus, sebelum lanjut ke bagian-bagian yang agak enggak jelas, masa ada ini gengs:


Font di kiri: cambria
Font di kanan: calibri

Iya, saya emang pernah bilang, saya enggak suka Calibri. Tapi kan ya enggak tiba-tiba ganti font di tengah cuma buat satu paragraf, terus berikutnya pakai Calibri lagi : "" wkwkkw

Tapi oke, lah. Ayo kita




Sekarang, coba lihat ini:

itu kan dibilang Lana nyari pasangan buat 'mempersiapkan' pernihakan Nadine. Menurut saya, kata 'mempersiapkan' kurang tepat. Lah, kan Lana nyari pasangan buat pernikahannya Nadine. Masa buat persiapannya doang? Ntar pas nikah benerannya gimana? ;--;; wkwk


Oke, lanjut.


acuh kan peduli, ya. Sebenernya bisa aja sih, maksudnya emang peduli. Cuma kalau dari kalimat yang diucapin dan ya, keseluruhan paragagrafnya, apa enggak lebih cocok kalau dijadiin 'tak acuh'? ((sotau mode on))


Kemudiaan, masa pas Sam ngantar Lana pulang:


itu Lana jelas-jelas ada di mobil bareng Sam. Mereka berdua mau ke rumah Lana. Ngapain Sam ngelihat arahan dari
'navigasi ponselnya menuju rumah Lana'? Emang Lana enggak bisa ngasih tahu aja, ya? ;-; Apa dia lupa jalan ke rumahnya? jengjengjeng


Terus ada ini pas Sam makan sama Lana:


kan dibilang Sam enggak suka cewek yang makan dikit buat jaga image dll dll
Tapi kemudian...


pakai nanya entah kenapa pas ada nada gak suka di suara Sam waktu Lana makan dikit. LOL Yah, mungkin Lana lupa.



Terus hmm, liat ini deh:

Kan Adel ceritanya alim gitu ya (yang sampe enggak salaman sama cowok) tapi masa pas mereka ngegosip, dia malah komennya "Semoga anu tobat ya." Ya, emang alim sih. Cuma agak lucu aja. Kenapa enggak dia komen, "Udah ah, enggak baik ngegosip." atau semacamnya? LOL. HHHAHA. ((ini sotau banget)) Cuma menurut saya, lebih masuk akal gitu sih ehhe.

Teruss:

maksudnya apa : "" di mana? di mana? di manaaa? kuharus mencari ke mana?

Laluu ada:


Lana kan izin ke temen-temennya pake alasan ngarang-ngarang kalau dia diminta ibunya buat nemenin belanja bulanan (aslinya dia mau ketemuan sama Sam)

Tapi teruss:

padahal itu udah mendekati tengah malam. Dia udah muter-muter dua jam, dan pas sampe rumahnya udah malem.

Maksud saya, kenapa temen-temennya Lana percaya gitu? Mana ada orang belanja bulanan malem-malem? Ok, mungkin ada, tapi apa enggak kedengeran kurang kerjaan...? Lagi pula, coba deh, ambil aja mendekati tengah malam itu setengah dua belas. Dua jam sebelumnya, berarti setengah sepuluh. Kalaupun belanja bulanan di mal, udah pada tutup kali tokonya jam segitu : """


Terus ada inii:

pertama dibilang di hutan

habis itu di kebun lol

Bisa gitu ganti tempat resepsi dalam beberapa halaman? Wkwkw.

Kemudiaan:


katanya nyari restoran terbaik sampai semalaman suntuk. Kalau emang restorannya terbaik dan bagus, harusnya kan nyarinya gampang. Ya, sesusah-susahnya, enggak sampai semalaman suntuk, kan? Restorannya mau sok-sok jual mahal, nih.


Lalu ada ini pas di dalam restoran:


katanya, meja di hadapan mereka cuma jadi pajangan. Padahal, jelas-jelas, sebelumnya, ada pelayan naruh makanan di situ. Lah orang Lana terus ngambil makanannya juga kan di paragraf berikutnya?

Ya, mungkin emang cuma kiasan aja, sih. Cuma menurut saya agak gimana gitu. Kalau pajangan kesannya enggak berguna banget. Kenapa enggak diganti kayak: "..meja di antara mereka yang sejak tadi seperti menganggu" atau apakek wkwk.

Kalau dibaca satu paragraf atau dari beberapa kalimat sebelumnya, kata 'pajangan'-nya itu jadi enggak kerasa konotasinya (kalau emang dibikin kontasi)


Nah, ada dua hal yang agak mengganjal--yang mau saya tulis di sini.

Pertama, ada bab di mana Kaia dan Samudra menghilang. Di situ, oke, lah, Samudra menghilang. Tapi Kaia menghilang menurut saya enggak terlalu penting. Atau apa ini ada hubungannya sama sekuel/side story/spin-off? Kalau iya sih, enggak apa-apa. Cuma kalau enggak, menurut saya, Kaia enggak perlu hilang juga its oke wae kok. Enggak bakal ada perbedaan sama alurnya.

Terus, satu lagi.

Lana sama Samudra kan kalau ngomong saya-kamu. Tapi kadang kelepasan pakai 'aku'. Ada sebenernya yang saya tandain pas di satu paragraf Samudra ngomong 'saya' terus jadi 'aku'. Cuma paragrafnya mengandung spoiler HEHE.

Nah, itu dulu, ya.

Sebenernya secara keseluruhan ceritanya unik. Emang udah banyak, sih, cerita yang melibatkan pacaran boong-boongan, tapi di sini, ceritanya dibikin karena Lana terpaksa harus nyari pasangan.

Tapi, tahu enggak, nyari pacar boongan itu ngingetin saya sama apa? : "






MARK BLACKTHORN DI ENDING-NYA LADY MIDNIGHT. YAAMPUNN /nyasar/ /abaikan/ (ini ada di review Lady Midnight yang versi spoilers. Baca di sini)

Sip, balik ke topik.

Cerita ini ringan dan cocok buat dibaca santai-santai. Sehari doang selesai ini, mah. Tapi saya enggak baper gara-gara Lana-Sam kayak yang dialami orang-orang di testimoni yang memenuhi buku ini (?) Mungkin gara-gara orang yang ngasih testimoni enggak dapet post-card kayak saya, jadi enggak tahu ending-nya sama siapa.

Bercanda.

Mungkin karena saya masih sakit hati sama ceritanya Emma-Julian di Lady Midnight yang menguras emosi (??) (OK ini terakhir saya nyebutin Lady Midnight)

Tapi Samudra emang bisa bikin saya kadang senyum-senyum gajelas. HAHAH. Kocak dan ngocol banget Samudra! Saya suka HEHE.

Karakter Lana lumayan konsisten, sih, menurut saya. Kaku dan sensitifnya itu emang kadang ngeselin, tapi cukup kuat dan konsisten.

Terus hm, apalagi, ya...

Intinya sih, buku ini sebenernya udah bagus--soalnya kesalahan-kesalahannya bisa dibilang sepele dan bisa diperbaiki ^^

Terakhir, saya kasih 2 dari 5 bintang buat para jomblo! (??)





4 comments:

  1. Suka, deh. Reviewnya detail banget ampe bengong2 sendiri. Salam kenal ya, An. Mampir sini dari GR ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, makasih yaa! ehehe : ) salam kenal!

      Delete
  2. Stop emang bahasa Inggris. Indonesia-nya setop. Hebat, kritis banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya, barusan saya cek lagi. Makasih yaa! Waktu itu saya cek terus nemu kata 'stop'. Mungkin itu KBBI versi lama? Makasih banyak yaa!

      Delete