Thursday, June 2, 2016

,

Cherry Blossom - Christa Bella


Judul: Cherry Blossom
Penulis: Christa Bella
Penyunting: M.B. Winata
Desain sampul: Andanu Jambunada
Penerbit: Bukune
Cetakan pertama, Mei 2016
405 halaman





Blurb:
"Bagaimana jika takdir membawamu ke jalan yang benar-benar berbeda?"
Pada awalnya, Abrianna 'Abby' Fuyuko merasa menjalani hidup yang lengkap: prestasi membanggakan, orangtua yang penyayang, sahabat-sahabat menyenangkan, dan pacar super-perhatian. 
Namun, dunia Abby mendadak runtuh ketika orang-orang yang ia cintai meninggalkannya. Rentetan pengkhianatan seakan-akan terus membayangi ke mana pun ia melangkah. Ia pun sadar, waktu terus berjalan dan semua orang berubah ― begitu juga dengan perasaan.
Kini Abby harus menata kembali hidupnya di tempat yang baru. Dan siapa sangka, hal yang paling diinginkannya dalam hidup, masih begitu jauh dari jangkauan?

Cherry Blossom ini bercerita tentang kehidupan Abby yang ngenes banget yang tiba-tiba berubah tiga ratus enam puluh derajat. Gadeng boong. Kalau tiga ratus enam puluh kan semuanya, ya? Abby masih perempuan, kok. Belum ganti jenis kelamin. Jadi yah, sekitar beberapa derajat aja (ini apaan, sih).

Oke, serius.

Masalahnya awalnya cuma dari dua orang. Pacar sama ayahnya. Dimas--pacarnya Abby--itu enggak sengaja tidur bareng sama Rhea di acara ulang tahun salah satu temennya. Cuma tidur doang. Bobo. Nina bobo ooo nina bobo. Tapi Abby--oke, ntar aja. Intinya mereka putus.

Sementara itu, ayah sama ibunya Abby cerai, dan ayahnya mau nikah lagi. Masuk akal aja sih, soalnya orangtua Abby emang udah pisah hidupnya, tapi si Abby masih berharap untuk rujuk. Hm.

Karena selama ini si Abby merasa hidupnya lengkap, jadi dia syok berat merasa butuh waktu buat ngadepin semua ini. Dia pun pergi ke Jepang sama ibunya. Di perjalanan, dia ketemu sama cowok yang namanya Mario.

Abis itu, Abby balik lagi ke Denpasar (tempat tinggalnya), terus dia pindah ke Jakarta (tarik napas, buang, tarik napas buang. Sabar ya, ngikutin si Abby ini ke sana-sini). Si Abby ini ke Jakarta buat ninggalin semuanya. Dia mau ningalin masalah-masalahnya. (Padahal si Dimas, juga udah pergi duluan ke Amerika buat kuliah. Hm.)

Di Jakarta, mamanya Abby nitipin Abby sama temennya yang namanya Jeremy. Ibunya Abby ceritanya model dan sibuk ke sana sini (kayak saya gitu ya), jadi ibunya enggak bisa nemenin Abby. Eh, ternyata Jeremy ini omnya Mario. Dan Mario tinggal sama omnya. Jadi, Abby bakal tingal serumah sama Mario.


((wau, saya terkejut))



Nah, si Abby itu pindah ke sekolahnya Mario, tapi enggak sekelas, kok. Tenang aja. Dunia masih lebih luas dari itu. Eh, tapi enggak luas-luas banget deng. Si Mario kelasnya di sebelah, dan Abby sebangku sama orang yang bikin Abby putus dari Dimas--Rhea.

Dan ternyata, Rhea itu sahabatnya Mario. Bukan cuma itu aja, Rhea sama Mario juga sahabatan sama Maxon--cowok di kelas Abby yang lumayan deket sama Abby. Dan di antara tiga sahabat itu, ah, bisa nebak sendiri, kan? lol.

Intinya, begitulah. Enggak mungkin kan, saya nyeritain lebih lanjut di sini ceritanya? Ntar malah spoiler. Lagian, saya juga udah enggak sabar mau bahas buku ini HAHAHAHA.

Oke, saya awalnya tertarik sama cerita ini karena covernya lucu. Dan saya enggak ikut PO waktu itu karena mager--enggak terlalu niat bacanya juga. Tapi jujur, saya penasaran sama terbitan Bukune dari Wattpad (soalnya saya belum pernah baca terbitan Bukune). Ya, saya mau tahu aja, Bukune kalau nerbitin itu bagus enggak, dll, dll.

Terus saya ke gramed, dan sempet liat buku ini. Pas liat harganya saya langsung naro bukunya lagi. 90 ribu, Mbak, Mas.

Terus saya iseng cek di goodreads. Sejauh ini, review sama ratingnya baru dikit. Enggak ada yang bilang jelek juga. Saya  jadi makin penasaran. Eh terus, Kak Bella (sok akrab) buka PO kedua yang ada paket-paketnya. Paket pertama 81 ribu udah sama tanda tangan. Ya udah saya beli (walaupun sama ongkir juga 90 ribu. Hiks).

Pas bukunya sampai, saya langsung buka dan saya suka layoutnya. Rapii! Saya suka banget buku pakai font cambria. Layout dalamnya mirip-mirip bukunya Gagas. Tapi bentuk bukunya lebih besar dari buku-bukunya Gagas.

Saya pun membaca dan menyelesaikan buku ini sekitar satu hari saja. Dan selama membaca, saya--dengan sok tahunya--enggak berhenti nandain halaman yang salah. Biasanya saya cuma inget-inget halamannya aja. Tapi yang ini kebanyakan : "

Ini halaman-halaman yang saya tandain (ini pun enggak semuanya. Ada yang males saya tandain lol):

kalau ada kayak (2) berarti itu di halaman tersebut, ada 2 kesalahan,dst.



Salahnya beragam sih, mulai dari typo, plot bolong, logika lepas (ini apaan coba), kata-kata hilang, letak paragraf enggak bener, sama pemburaman halaman buat flashback (nanti saya jelasin).

Sekarang, ayo kita bahas satu-satu.

Eh, enggak deng. Jangan satu-satu. Nanti jari saya copot : "

Oke, kita mulai dulu dari kesalahan teknis. (Silakan lewatin aja dan langsung baca bagian yang ngebahas soal alur, logika, dan sebagainya, kalau kamu enggak suka merhatiin teknis-teknis semacam typo, susunan kalimat, kalimat enggak efektif, dsb.)


Misalnya ada ini di halaman 49-50.

..soal ujian Geografi yang ia kerjakan dengan kertas sobekan kertas yang sangat kecil...

Atau beberapa kalimat enggak efektif. Ini saya ambil 2 contohnya:

'sangat' dan 'sekali'--pakai salah satu aja


'saling' udah bermakna 'satu sama lain'. Jadi, pakai salah satu aja

Terus di halaman 57, ada ini:

em...cerita ini kan pakai pov orang ketiga, ya.. terus ini 'aku'-nya siapa? Jangan-jangan, ini curhat terselubung dari penulis? Cieee


Dan masih di halaman 57, ada flashback ke dua tahun yang lalu. Ini yang saya enggak ngerti. Di halaman-halaman sebelum dan selanjutnya, kalau flashback, kertanya dijadiin lebih abu-abu gitu. Lah, kok ini enggak?

Terus, ada yang ganti nama masa:




Kemungkinannya ada tiga. Kemungkinan pertama, ada dua orang cowok flamboyan di kelasnya Abby, yang secara kebetulan namanya Robby dan Robi.

Kedua, si Robby ganti nama dalam beberapa halaman. Wah, harusnya dia bagi-bagi tumpeng, tuh.

Ketiga, yang nulis ngelupain Robby. Kasihan ya, dia.
Eh tunggu. Robby apa Robi, nih? Au amat, dah.

Nih, ada lagi pas percakapannya Abby sama Mario:



Abby sama Mario sama-sama enggak tahu kalau mereka berdua orang Indonesia, jadi mereka ngomong pakai bahasa Inggris. Tapi, ya, di bahasa Indonesia-in. Saya sih, enggak masalah. Yang bikin saya heran, itu ada percakapan bahasa Inggris benerannya. Kan, bikin bingung. Ya, walaupun saya enggak bingung sih... Tapi ah, sudahlah. Ngerti kan, maksud saya? Mendingan di bahasa Indonesia-in aja atau di bahasa Inggris-in aja semua.

Oke, terus coba lihat ini:

'benar'-nya menurut saya berlebihan, ah. kalimat ini benar-benar berlebihan.


Terus ada ini di halaman 88:



Kok, dibilang enggak biasa, pas banyak orang biasanya pulang jam segitu?


Habis itu ini:
Dan apaa? Dan siapaa? : " saya enggak bisa diginiin



Teruss, di halaman 206, masa ada kalimat begini:

kelakar kan canda. maksudnya kelana kali, ya? lol. editor, di mana engkau?




Terus ada ini:

ngapain dikasih ***flashback*** kalau kertansnya udah digelepin?.-.


Lalu adaa:

mengingat dua tahun apaan? saya bukan peramal, gimana saya bisa tahu mengingat dua tahun apaan?



Oke, segitu dulu aja kesalahan teknisnya. Ada lumayan banyak yang saya enggak masukin, jadi yah, kira-kira sendiri kesalahannya seberapa, ya kawan-kawan.

Sekarang, ke sisanya. Ini juga enggak bakal saya bahas semua, karena saya enggak mau jari saya copot. HAHA.

Oke, sebelumnya, saya mau ngasih tahu kalau saya sebel banget sama Abby. Menurut saya, Abby ini enggak jelas banget. Karakternya saya enggak dapet. Sebenernya, semua karakter penting kayak Abby, Mario, sama Dimas, saya enggak dapet lho sifatnya (?). Gimana ya, cara ngasih tahunya? Karakter mereka enggak kuat (nah). Tapi saya paling kesel sama Abby, soalnya dia karakter utama, jadi saya seringnya ketemu dia--makin kerasa enggak kuat karakternya.

Tapii, Dimas sama Mario juga bikin bingung, sih. Kayak, ini orang maunya apa?.-.

Contohnya, di halaman 54, si Dimas bilang kalau percuma aja dia memperbaiki segala sesuatunya sama Abby--karena dia mau pergi ke Amerika, dll. HALOOO? Mas, lo cuma mau pergi ke Amerika, bukannya ke alam baka. Lagian, ke alam baka juga, emang kenapa? Gini deh, Abby itu sahabat yang kemudian menjelma menjadi pacar Dimas selama beberapa tahun. Hell, masa lo enggak mau ngelurusin ke Abby kalau Abby cuma salah paham? Sampe putus lagi.

Dan justru, karena dia mau ke Amerika, harusnya kan dia pengin masalahnya kelar dulu, dong, sebelum dia pergi.





Terus, ini ada nih, pas Abby ngebentak ayahnya. Dia bilang dengan kasar--tolong perhatikan, saya bilang 'dengan kasar'--ke ayahnya, kalau dia lihat ayahnya sama cewek yang bukan ibunya. Terus ayahnya balik ngebentak Abby. Abby terus marah-marah dalam hati. Katanya, ayahnya itu enggak pernah marahin dia dan dia yakin ini salah si cewek yang waktu itu jalan sama ayahnya. WOI. Lo abis ngebentak orangtua. Wajar lah, kalau dimarahin. Apabat. bye.

Belum lagi, pas ayahnya Abby minta izin kawin lagi. Abby malah ngambek-ngambek gaje. Lo mau bapak lu jadi duda? Ha. Terus, akhirnya, Abby ngizinin ayahnya. Dengan syarat, hak asuh Abby jatuh ke ibunya. Akhirnya, ayahnya setuju. Abis itu Abby ngerasa ayahnya lebih milih kawin sama cewek lain daripada anaknya sendiri?! WTF. Orang Abby sendiri yang bikin syaratnya.




Terus, pas Abby ke Jepang abis masalah-masalah itu, dengan alasan mengunjungi neneknya, malah kagak ada sama sekali tuh, cerita dia ketemu nenek. Malah adanya juga jalan-jalan sama Mario. Terus, anehnya lagi, pas Abby berangkat ke Jepang, dia bilang selamat tinggal Abby yang lama... seolah-olah, dia mau pindah ke Jepang, bukannya mengunjungi nenek yang sebenarnya juga enggak diceritain.

Ada lagi yang aneh. Pas jalan-jalan sama sepupunya, ada paragraf begini:



Nah, di halaman selanjutnya, katanya Ryuu tahu Abby putus sama Dimas dari ibunya Abby. HEH. Au amat dah, Mbak.



Terus ada lagi, nih. Pas Abby jalan-jalan sama Mario. Pas Abby mau pergi, Mario nahan Abby. Alasannya, dia kagak bawa peta dan segala macem. Padahal, awal Abby jalan sama Mario juga enggak sengaja. Jadi gini singkatnya. Abby enggak sengaja ketemu Mario di bandara Singapura. Terus, ternyata secara enggak sengaja, Mario ketemu Abby di hotel di Jepang. Dan secara enggak sengaja juga, kamar mereka berseberangan. Suatu pagi, pas Abby mau jalan-jalan, dia enggak sengaja nabrak Mario yang secara enggak sengaja pakai baju mirip sama bajunya Abby. Eh, ternyata secara enggak sengaja Mario juga mau ke tempat yang sama sama Abby.



Nah, kan konyol kalau secara enggak sengaja juga Mario enggak bawa peta dan peralatan lainnya buat pergi sendiri? Apa si Mario ini udah dibisikkin kali ya sama yang nulis biar gak bawa peralatan apa-apa--biar bisa modus gitu sama Abby.

Dan enggak cuma itu aja. Secara enggak sengaja, Abby enggak bawa kunci kamar hotel. Dia pun akhirnya ditawarin Mario buat nongki dulu di kamarnya. Eh, pas mereka mau keluar (Mario ngajak makan), ketemu sama mamanya Abby di depan kamar. Mamanya Abby mau masuk kamar dan minta kunci kamar sama Abby. Dan anehnya, Abby NGASIH KUNCI KAMAR. WOY. WOY. WOY.

Apa secara enggak sengaja kunci kamarnya Abby nongol di sakunya?


Oke, terus hm, sebenernya banyaaak banget logika bolong di buku ini. Nih, contoh-contoh sepelenya:


Ibunya Abby ngomong di mobil sama Jeremy. Dan di mobil itu ada Abby. Tiba-tiba, ibunya Abby ngomong sambil agak nyindir gitu kalau Abby nguping. Da hell? Kalau mereka ngomong di goa terus Abby nempelin kupingnya di sono mah baru nguping. Ini mereka ngomong di MOBIL dan kabar terbaru: Abby punya kuping.

Terus ada misalnya dibilang Mario terus-terusan mainan hp, terus paragraf berikutnya bilang, Mario lagi merenung menatap jendela. Hp bisa ya, nemplok di jendela?

Ada juga pas Mario bilang ke Abby kalau orangtua Rhea tahu apa yang diperbuat Maxon, pasti orangtua Rhea udah nendang Maxon jauh-jauh. Eh, di halaman-halaman selanjutnya, ada pas Abby mikir kenapa Maxon bisa ada di kamar rawat Rhea, terus Abby bertanya-tanya, apa orangtua Rhea enggak tahu apa yang diperbuat Maxon?


Padahal terus dibilang loh, kalau Abby itu nilai-nilainya bagus. Makanya temen-temen di sekolah barunya suka nanya-nanya soal ke dia. Kok orang pinter tapi di hidupnya dia lolot banget, ya?

Apalagi, pas dia marah sama Dimas. Gajelas woy maunya apa. Di halaman sekian, dia kesel sama Dimas. Di halaman sekian, dia hepi-hepi aja sama Dimas. Terus ntar, di halaman sekian, dia nangisin Dimas. MAU LU APA MBAK.

Enggak cuma sama Dimas, sih. Sama dunia dia begitu. Bukan, bukan labil khas ABG. Tapi ini bener-bener enggak jelas. Saya yang masih ABG aja (cielah) enggak segitunya.

Terus, ada lagi. Di halaman 241, Abby teleponan sama Niko--sahabatnya Dimas. Dan bener-bener diceritain dari Abby ngangkat telepon sampai matiin. Mereka cuma ngebahas tentang orangtuanya Abby. Kagak ada nyebut-nyebut Alanis (pacarnya Niko). Eh, tiba-tiba, Mario nongol dan dia bilang dia denger Abby telepon nyebut-nyebut Niko sama Alanis. Padahal boro-boro Alanis, Abby aja kagak nyebut nama Niko sama sekali.

Dan mari hiraukan fakta kalau percakapan Niko di telepon enggak di-italic.(Apa sih, susahnya neken CTRL + I?)

Terus, oh, ya. Dari tadi belom bahas Mario, kan? Gajelas banget tahu ceritanya Mario bisa pindah hati secepat kilat. Bahkan Barry Allen si The Flash aja gabisa move on dari saya Iris West secepat itu. PLIS.

Dan sukanya tuh awalnya cuma coba-coba. Gaje deh, pokoknya.

Yang lebih gaje lagi, pas Mario marahan sama Rhea. Dijelasin marahannya kenapa. Tapi gak dijelasin baikannya giamana....

Pas Abby nanya gimana sama Rhea, Mario cuma jawab, "Hm. Gitulah."

Gini ya Kak Bella, boleh-boleh aja Mario enggak mau Abby tahu. Boleh-boleh aja, Mario males ngomong. Tapi pembaca butuh kepastian. Saya butuh kepastian.


Terus apa lagi, ya?

Oh ya, ada tuh, pas Abby malu, dia nutupin pipinya. Padahal terus dia bilang (dalam hati) dia bersyukur lampunya gelap jadi Mario gabisa liat warna pipinya dia. Kalau gitu, NGAPAIN LU TUTUPIN MBAK.


Terus.. hm, tokoh-tokoh cowok di sini menurut saya lembek banget sama Abby. Masa pas Abby bilang kalau... ah, gajadi deh, ntar spoiler. Intinya, sesuatu yang dia emang belum kasih tahu ke Mario. Terus Mario nyalahin dirinya sendiri gara-gara enggak tahu soal itu.

Hell?

Oke, terus, di prolog, ada tulisan 'Untuk Mario 29-01-1997'. Dan Abby mikir, itu sama kayak ulang tahunnya dia. Eh pas di akhir-akhir dia bilang, ulang tahun dia 19 Januari (dan ini diulang-ulang). Bisa gitu ya, maju 10 hari brojolnya setelah beberapa halaman?

Dan di halaman terakhir, pas Mario ngasih bunga, si Abby bilang, dia kayak kena deja vu. Tapi udah diem. Selesai. Berhenti. Tamat. Enggak ada penjelasan lagi. Menurut saya, boros tinta banget. Kalau emang enggak mau dijelasin, buat apa ditaruh keterangan deja vu? Emang, mau ada sekuelnya? Kalau mau ada sekuelnya, dan dijelasin di sana, ya okelah, saya terima ini. Tapi kalau buat buku sendiri...



Nah, selesai. Gadeng boong. Aslinya banyaaaakkk yang belum saya tulis. Tapi ntar kepanjangan. Ini aja udah capek ngetiknya. HAHA.

Kalau mau tahu lebih banyak, silakan baca sendiri. Atau pas baca terus lihat catatan halaman kesalahan saya di atas tadi, dan enggak bisa nemuin salahnya di mana, feel free to ask.

Oke, kelebihannya... apa ya...

Cara bercerita? Oke, sih. Tapi menurut saya, kadang ceritanya suka loncat-loncat. Sebenernya boleh aja, tapi dengan banyaknya plot hole, saya jadi merasa ditinggal : " tau-tau udah di manaa aja ceritanya.

Ide? Bagus, sih. Tapi kalau unsur enggak sengaja-nya dihilangin (yang sebenarnya lebih banyak dari yang saya tulis di sini), pasti bagus. Klise juga, sih, jadi ya... Dan menurut saya, buat ukuran cerita remaja, ini konfliknya terlalu... dewasa. Bukan dewasa sih, tapi sok dewasa. Bukannya penentang teenlit (lah novel teenlit saya aja banyak banget), tapi masa di sini nyebutnya cinta-cinta mulu? Di novel romance yang saya baca aja, nyebut kata 'cinta' juga jarang. Jadi geli bacanya. Kesannya jadi serius banget. Padahal tokohnya masih enam belas tahun. Belum tentu bakal nikah juga. (Tapi ini lebih masalah selera, sih.)

Harga? bah. lewatin aja ini.

Amanat? Ya, boleh, lah. Saya dapat-dapat dikit amanat dari sini.

Blurb? Enggak, ah. Jujur, blurb-nya menurut saya enggak menarik. Saya enggak beli ini gara-gara blurb-nya.

Cover? LUCU. Oke, ini bagus. Layout saya juga sukaa. Walaupun kadang, gambar motif-motifnya suka mengangguk. Tapi yah, it's okay.

Kesimpulannya, bukunya oke-oke aja. Saya belum sampai tahap mau ngebakar buku ini. Masih mau saya simpen. Tapi kecewa? Ya... gimana ya? Bisa kalian simpulkan sendiri, deh.

Coba aja dibaca dan diedit lagi. Pasti lebih bagus. Saya dapat kesan, kalau buku ini buru-buru diterbitkan. Liat aja, di halaman akhir-akhir, hampir setiap halaman saya tandain ada salahnya.

Semoga, novel Kak Bella berikutnya (Revan dan Reina, kan?) bisa lebih bagus. Saya mau baca ah. Semoga enggak mengecewakan.

Overall, saya kasih 1.5 dari 5 bintang buat buku ini : )




2 comments:

  1. wkwkw. Aku baru baca review di blog kamu. malah aku ngakak kayak baca novel the number.... suka deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahaha makasih banyak yaa udah baca : )

      Delete